Musikal Calon Arang: Ketika Legenda Nusantara Menjadi Ruang Tumbuh Karier Industri Kreatif

TopCareer.id – Sebuah pertunjukan musikal tidak hanya dibangun oleh aktor yang tampil di atas panggung. Di balik sebuah produksi terdapat ekosistem profesi yang melibatkan sutradara, koreografer, musisi, penata panggung, tata cahaya, manajemen produksi, teknologi, hingga komunikasi dan pemasaran.
Gambaran mengenai luasnya ekosistem tersebut terlihat dalam produksi Musikal Calon Arang, karya terbaru EKI Dance Company bersama Indonesia Kaya yang dipentaskan pada 17–20 September 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Musikal yang mengangkat legenda Calon Arang ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan 30 tahun perjalanan EKI Dance Company di industri seni pertunjukan Indonesia. EKI didirikan pada 1996 oleh mendiang Rusdy Rukmarata dan Aiko Senosoenoto.
Pertunjukan tersebut mempertemukan seni tradisi dengan pendekatan produksi modern. Kisah Calon Arang, Ratna Manggali, Bahula, dan Empu Barada dikembangkan melalui musik, koreografi, akting, serta tata panggung yang memanfaatkan teknologi.
Bagi industri kreatif, pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa sebuah karya seni dapat menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai latar belakang keahlian.
Sutradara sekaligus pemeran Calon Arang, Ara Ajisiwi, mengatakan produksi tersebut berupaya menghadirkan cerita tradisional dalam bentuk yang dekat dengan penonton masa kini.
Baca Juga: Rusun Pasar Rumput Jakarta Kini Punya Bioskop Mini
“Kisah Calon Arang mengajak kita merenungkan kembali batasan antara baik dan jahat secara lebih manusiawi,” ujar Ara.
Ia menjelaskan, pendekatan musikal dilakukan melalui musik yang catchy, tata panggung berteknologi modern, dan pembawaan cerita yang ringan. Dengan demikian, legenda Nusantara tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi dapat diolah menjadi pengalaman seni yang relevan bagi generasi sekarang.
Produksi Calon Arang juga memperlihatkan keterlibatan sejumlah talenta dari berbagai generasi. Nala Amrytha berperan sebagai Ratna Manggali, Gerry Gerardo sebagai Bahula, Gabriel Harvianto sebagai Barada, dan Sita Nursanti sebagai Dewi Durga.
Di balik para pemain tersebut terdapat sistem kerja produksi yang lebih luas. EKI Dance Company sendiri tidak hanya bergerak dalam bidang tari dan musikal, tetapi juga memiliki divisi profesional yang mencakup broadcasting, stage management, dan talent management.
Ekosistem semacam ini menunjukkan bahwa karier di industri kreatif tidak terbatas pada profesi yang terlihat di atas panggung. Kemampuan manajemen, komunikasi, produksi, teknologi, pemasaran, dan pengelolaan talenta juga menjadi bagian penting dari keberlangsungan sebuah pertunjukan.
Produser Musikal Calon Arang, Alim Sudio, mengatakan perjalanan tiga dekade EKI telah menghasilkan lebih dari 50 judul musikal panggung dan film.
“Calon Arang adalah perayaan sekaligus bentuk apresiasi kami bagi para penikmat seni dan masyarakat yang terus mendukung perjalanan EKI,” kata Alim.
Baca Juga: Bisakah Bioskop Bertahan Hadapi Gempuran Situs Streaming?
Pengalaman EKI memperlihatkan bagaimana industri pertunjukan dapat berkembang melalui kemampuan membaca perubahan zaman. Pada awal perjalanannya, EKI banyak merespons fenomena sosial dan persoalan masyarakat melalui karya panggung. Dalam perkembangannya, kelompok ini kemudian mengolah cerita tradisi Nusantara menjadi pertunjukan populer.
Sejumlah produksi yang pernah digarap EKI antara lain Ken Dedes (2023), Perempuan Punya Cerita (2024–2025), dan Lutung Kasarung (2024–2026).
Bagi generasi muda yang tertarik masuk ke industri kreatif, perkembangan produksi musikal juga memperlihatkan pentingnya kemampuan bekerja lintas disiplin. Seni pertunjukan membutuhkan kombinasi kreativitas artistik dan kemampuan profesional untuk mengubah sebuah gagasan menjadi produksi yang dapat dinikmati publik.
Dalam konteks tersebut, Calon Arang bukan hanya cerita tentang legenda dan budaya Nusantara. Produksi ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah karya seni membutuhkan ekosistem kerja yang mempertemukan berbagai profesi dan kompetensi.
EKI juga menjadi penggagas Festival Musikal Indonesia (FMI) yang pada 2026 memasuki penyelenggaraan tahun kelima. Festival tersebut dijadwalkan kembali berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada 26–29 November 2026 bersama Indonesia Kaya.
Perkembangan produksi dan festival musikal menunjukkan bahwa panggung pertunjukan dapat menjadi salah satu ruang bagi tumbuhnya talenta sekaligus profesi baru dalam industri kreatif Indonesia.



